Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan


Terdapat sejumlah topik pembahasan penting berkaitan dengan model kontemporer pembangunan dan keterbelakangan. Topik-topik penting tersebut adalah:
4.1 Keterbelakangan sebagai Kegagalan Koordinasi
Di era 1990-an, ada sejumlah teori baru pembangunan yang telah mengedepankan komplementaritas sebagai salah satu syarat berhasil suatu pembangunan. Komplementaritas (complementary) merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan, pekerja, atau organisasi yang memperkuat dorongan bagi agen lain untuk melakukan tindakan serupa. Komplementaritas sering mencakup investasi yang hasilnya bergantung pada investasi yang dilakukan para agen perekonomian lainnya.
Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa kegagalan koordinasi adalah suatu keadaan hubungan yang dicirikan dengan ketidakmampuan para agen untuk mengkoordinasikan perilaku (pilihan) mereka, sehingga menimbulkan hasil (ekuilibrium) yang membuat semua agen berada dalam keadaan lebih buruk dibandingkan dengan di suatu situasi lain yang juga merupakan ekuilibrium. Hal ini dapat terjadi jika semua agen memahami dengan baik sdanya alternative ekuilibrium yang lebih menguntungkan. Hanya saja mereka sama sekali tidak dapat mencapai keadaan itu karena kesulitan berkoordinasi.
4.2 Ekuilibrium Jamak: Pendekatan Diagramatis
Ekuilibrium jamak merupakan suatu kondisi yang menunjukkan adanya lebih dari satu ekuilibrium. Diagram standar yang dipakai untuk menggambarkan ekuilibrium jamak (multiple equilibria), yang menunjukkan kemungkinan terjadinya kegagalan koordinasi, disajikan pada Peraga 4.1. (Lihat Buku Panduan).
4.3 Memulai Pembangunan Ekonomi: Model Dorongan Besar
Model kegagalan koordinasi terpenting dalam literature pembangunan adalah “dorongan besar” (big push) yang dipelopori oleh Paul Rosenstein-Rodan, yaitu orang pertama yang mengangkat beberapa isu dasar tentang koordinasi.
Model dorongan besar adalah model yang menjelaskan bagaimana kegagalan pasar dapat menimbulkan kebutuhan akan perekonomian yang terencana dan kemungkinan juga upaya yang dicetuskan oleh kebijakan pemerintah agar proses pembangunan ekonomi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat berjalan atau dipercepat. Dengan kata lain, kegagalan koordinasi akan menghambat keberhasilan industrialisasi dan menjadi kendala dalam pembangunan.
Pembahasan menarik pada bagian ini adalah dorongan pesar (big push): Model grafis yang memiliki sejumlah asumsi, antara lain: 1) Faktor, 2) Pembayaran faktor, 3) Teknologi, 4) Permintaan domestic, 5) Penawaran dan Permintaan Internasional, dan 6) Struktur pasar.
Perlunya dorongan besar dapat timbul dari empat kondisi, antara lain: 1) Efek intertemporal, 2) Efek urbanisasi, 3) Efek infrastruktur, dan 4) Efek pelatihan.
4.4 Masalah Lanjutan dari Ekuilibrium Jamak
Sekaitan dengan masalah lanjutan dri Ekuilibrium jamak, ada sejumlah topik menarik, antara lain: Keunggulan industri lama yang tidak efisien, Perilaku dan Norma, Keterkaitan, Ketimpangan, Ekuilibrium Jamak, dan Pertumbuhan.
4.5 Teori Cincin O dari Michael Kremer tentang Pembangunan Ekonomi
Model Cincin O
Ciri penting dari model  cincin O adalah caranya dalam membuat model produksi yang memiliki komplementaritas kuat antar input. Fungsi produksi cincin O merupakan sebuah fungsi produksi dengan komplementaritas kuat diantara inputnya, berdasarkan produk dari kualitas input-input itu.
Implikasi Teori Cincin O
Ada sejumlah implikasi penting Teori Cincin O, antara lain:
a)    Perusahaan cenderung merekrut pekerja dengan tingkat keterampilan yang tinggi untuk menjalankan berbagai tugas.
b)    Para pekerja dengan tugas yang sama akan memperoleh upah lebih tinggi di perusahaan berketerampilan tinggi dibandingkan dengan perusahaan berketerampilan rendah.
c)    Karena kenaikan upah dalam q berlangsung dengan tingkat yang semakin tinggi, maka tingkat upah di negara maju akan jauh lebih tinggi dari yang mungkin diperkirakan berdasarkan standar ukuran keterampilan.
d)    Jika para pekerja dapat meningkatkan keterampilan mereka dan berinvestasi untuk keperluan itu dan apabila mereka melakukan investasi itu bagi kepentingan sendiri, maka mereka akan mempertimbangkan tingkat investasi modal manusia yang dilakukan oleh pekerja lainnya, sebagai salah satu komponen keputusan mereka tentang seberapa banyak keterampilan yang akan diperoleh.
e)    Seseorang dapat terjebak dalam perangkap kualitas produksi rendah di sebuah perekonomian secara keseluruhan. Hal ini akan terjadi apabila terdapat efek cincin O di semua perusahaan dan juga di dalam perusahaan (yang cukup beralasan).
f)     Efek cincin O akan memperbesar dampak kemandekan produksi lokal, karena kemandekan seperti itu memiliki efek berganda terhadap produksi lainnya.
g)    Kemandekan juga memperlemah dorongan bagi pekerja untuk berinvestasi dalam peningkatan keterampilan dengan cara memperendah hasil yang diharapkan dari keterampilan itu.
4.6 Pembangunan Ekonomi sebagai Penemuan Diri
Dalam model-model sederhana dengan informasi yang sempurna, diasumsikan bahwa semua perusahaan dan negara berkembang secara keseluruhan telah mengetahui keunggulan kompetitif mereka.Sekalipun demikian, individu harus menemukan keunggulan komparatif (kompetitif) mereka sendiri dalam pasar tenaga kerja; misalnya, tidak seorang pun yang begitu lahir telah mengetahui apakah lebih cocok menjadi ekonomi atau pakar pembangunan internasional.
Demikian juga, negara harus memahami dan mempelajari apa saja aktifitas yang paling menguntungkan sehingga dapat menghususkan diri dalam kegiatan itu. sekedar untuk diketahui bahwa sebuah negara berkembang agar menghususkan diri dalam “produk padat karya” (labor-intensive-product) tidaklah cukup, karena bahkan jika saran itu selalu benar, terdapat begitu banyak produk seperti itu dalam perekonomian dunia dewasa ini, dan biaya untuk menghasilkan produk tertentu juga mungkin sangat berbeda dari satu negara dengan negara lainnya.
4.7 Kerangka Kerja Diagnostik Pertumbuhan Hausmann-Rodrik-Velasco
Ricardo Hausmann, Dani Rodrik, dan Andres Velasco (HRV) mengajukan kerangka kerja pohon keputusan yang dikenal dengangrowth diagnostics (diagnostik pertumbuhan) untuk menihilkan kendala paling membelenggu dalam pertumbuhan ekonomi. HRV menjelaskan bahwa menargetkan kendala yang paling membelenggu memiliki keunggulan penting dibandingkan dengan pendekatan lain dalam memilih kebijakan.
Intinya adalah diagnostik pertumbuhan merupakan sebuah kerangka pohon keputusan untuk mengidentifikasi kendala yang paling membelenggu suatu negara dalam pertumbuhan ekonomi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bonus Demografi. Keuntungan atau Ancaman? Hubungannya dengan Perekonomian